Selasa, 2009 Februari 17

Istirahat Dalam Damai : Paulus Suparno

Teman yang baik. “Saya masih ingat dia, orangnya baik, rajin dan nurut. Tiap pagi kesekolah pasti bareng saya. Pulangnya juga bareng,” itulah bunyi pesan SMS (17/2/2009) dari Jakarta. Pengirimnya, Sugeng Sudewo, yang pada tahun 1961-1967 bersekolah di Sekolah Dasar Negeri 3 Wonogiri. Teman berangkat sekolah yang ia sebut di atas adalah Suparno.

Keduanya memang tinggal berdekatan. Sugeng Sudewo, putra Bapak/Ibu Hadisubroto (ibu Hadisubroto wafat 15 Januari 2008), tinggal di komplek Perumahan Rakyat Kajen. Hanya sekitar 150 meter, ke arah timur, terletaklah rumah Suparno, yang putra Bapak/Ibu Karsodikromo. Di kampung dan oleh teman akrab ia disebut sebagai Parno Benjo. Adiknya bernama Supardi, punya sebutan Genjik, yang juga bersekolah di SDN 3 Wonogiri.


Sugeng Sudewo dalam sms juga mengatakan, “saya ikut bela sungkawa atas meninggalnya kawan kita.” Kawan kita yang dimaksud adalah Paulus Suparno. Sugeng Sudewo, Suparno sendiri, Sri Wahyono (almarhum), Timbul Susanto (almarhum) Slamet Hartanto dan saya sendiri (Bambang Haryanto), yang sama-sama tinggal di Kajen, merupakan teman seangkatan di SDN 3 Wonogiri. Ketika duduk di kelas 6 kelas kami diampu oleh Bapak Narwoto. Nama terakhir ini kemudian menjadi politisi senior di Wonogiri dari Partai Amanat Nasional.

Photobucket

Memberi hormat. Penghormatan untuk almarhum Paulus Suparno diberikan oleh sanak-saudara, handai tolan dan kenalan yang mengalir tanpa henti. Suasana khidmat menjelang pemberangkatan jenazah.

Photobucket

Duka cita dari kolega. Paulus Suparno hingga akhir hayat bekerja pada Perum Pegadaian selama 30 tahun. Dedikasi yang panjang itu tidak dilupakan oleh perusahaan dan kerabat kerjanya. Nampak karangan bunga tanda empati kepada keluarga yang berduka dikirim oleh Pegadaian Wonogiri dan bahkan juga dari Kanwil Semarang.

Paulus Suparno meninggal dunia dalam usia 55 tahun, pada hari Senin Kliwon, 16 Februari 2009, jam 15.30 di Rumah sakit Dr Oen Kandang Sapi, Solo. Menurut adiknya Supardi, ia meninggalkan 4 putra/putri dan seorang cucu.

Jenasah dimakamkan hari Selasa Legi, 17 Februari 2009 di Pemakaman Umum Kampung Kajen. Sebelumnya akan diaksanakan upacara agama Katholik di rumah duka, RT 02 RW 10, Kajen, Giripurwo.

Photobucket

Ucapan terima kasih. Keluarga besar Bapak Paulus Suparno yang sedang berduka, tidak melupakan limpahan empati dan duka cita dari sanak-saudara, kerabat dan handai taulan. Tokoh masyarakat Kajen, bapak Drs. A.K. Djaelani dengan didampingi adik almarhum, Supardi (kanan) dan kakak ipar dari Ibu Suparno, yang mewakili keluarga sedang memberikan sambutan berupa ucapan terima kasih. Juga memohonkan maaf atas segala kesalahan almarhum semasa hidupnya.
Photobucket

Brobosan. Sebelum jenazah diberangkatkan dari rumah duka, nampak sedang dilakukan upacara brobosan oleh keluarga almarhum. Ritus ini merupakan tanda keikhlasan keluarga untuk melepas almarhum menuju rumah abadi di sisi Yang Maha Kuasa.


Keluarga Wuryantoro. Suparno masih memiliki kaitan keluarga dengan diri saya. Utamanya terkait antara keluarga ayahnya, Bapak Karsodikromo (meninggal dunia tahun 1985) yang berasal dari Wuryantoro, kota asal yang sama bagi ayah saya Kastanto Hendrowiharso (meninggal dunia 1982).

Supardi yang saya temui, Selasa pagi (17/2), menyebut ayah saya sebagai pakde. Lalu dalam obrolan muncul nama mBah Sokromo, yang tidak lain masih bersaudara dengan mBah Kasan Luwar, kakek saya. Nama mBah Sokromo ini saya ingat, rumahnya di Wuryantoro, yang pernah ditinggali ayah dan ibu saya.

Cerita masa lalu kemudian berparade di benak saya. Setiap berangkat ke sekolah, saya dan adik-adik saya memang selalu melewati depan rumah Suparno. Juga mendapat tegur sapa dari Lik Karso, yang saat itu menjadi penjaga malam di Perum Pegadaian Wonogiri. Badan usaha inilah yang kemudian menjadi lahan karier dan pengabdian Suparno. Semula di Wonogiri, sempat pindah ke Baturetno. Ketika gangguan kesehatannya muncul, ia pindah lagi ke Wonogiri.

Setelah lulus SD, kami berpisah. Saya meneruskan ke SMP Negeri 1 bersama Sugeng Sudewo dan Sri Wahyono. Suparno meneruskan bersekolah ke Sekolah Teknik Negeri (STN) 1 Wonogiri. Begitu lulus SMP (1969), saya bersekolah di Yogya, lalu Solo dan Jakarta, membuat kontak kita menjadi putus.

Balada dua kucing. Saya ingat satu kejadian dramatis ketika duduk di SDN 3 Wonogiri. Selain ingat, tentu saja, penampilan Suparno yang ketika diminta bercerita di depan kelas, seingat saya, ia selalu mendongeng tentang perilaku dua jenis kucing : kucing kurus versus kucing gemuk. Saya tidak ingat lagi kucing mana yang berperilaku baik, tetapi dongengnya itu mengajarkan nilai-nilai kebaikan.

Kejadian dramatis itu terjadi saat kita main perang-perangan. Kebetulan di dekat sekolah kami terdapat tebing di tepian Bengawan Solo. Ada jalan setapak dari tebing itu yang mengarah ke sebuah gua. Di dekat gua itu, agak ke timur, ada batu menjorok ke sungai yang kami gunakan sebagai tempat landas untuk ramai-ramai beraksi a la Gregg Louganis mencebur ke sungai. Setiap jam istirahat, kami sering menggunakan waktu untuk ramai-ramai mandi di sungai.

Aktivitas hura-hura yang beresiko. Sebab bila ketahuan oleh ayah atau ibu saya, saya akan dihukum dengan diguyur air hingga megap-megap dan kedinginan. Teknik ini, tentu yang lebih sadis mungkin kini disebut sebagai waterboarding, teknik yang digunakan oleh CIA untuk menginterogasi tersangka teroris di penjara Guantanamo.

Ketika aksi perang-perangan itu, Suparno masuk kelompok yang menjadi lawan saya. Ia dan kelompoknya masuk gua dan bertahan di sana. Saya dan kelompok saya, dari atas gua, menghujani mulut gua dengan gumpalan tanah. Rumput-rumput kering seputar gua, kami bakar. Asapnya biar masuk gua, membuat sesak, hingga musuh terpaksa keluar dari gua.

Taktik itu berhasil. Suparno yang nampak muncul dari dalam gua, segera saya serang dengan gumpalan tanah dari atas. Seingat saya, gumpalan itu saya arahkan ke dinding di atas gua. Bukan langsung ke kepala dia. Sejurus kemudian terjadi hal yang mengagetkan : pundak di baju putih dia bertaburan bercak-bercak darah. Perang-perangan itu pun selesai. Kami lalu membawa Parno ke poliklinik, yang berada di kompleks SMA Negeri 1 Wonogiri.

Syukurlah, lukanya tak mengkuatirkan. Esoknya, saya dicegat oleh Lik Karso, ayah Parno. Ia menasehati saya agar tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Saya diminta sayang kepada adiknya, yaitu Parno tersebut.

Pertemuan terakhir. Tahun 1998, ketika terjadi krismon, saya kembali menjadi warga Kajen. Setelah 18 tahun tinggal di Jakarta. Pagi-pagi hari, ketika jalan kaki pagi, sering bertemu Parno. Ia memboncengkan anaknya, memasok kue-kue untuk kantin sekolah di SD Kanisius, Wonogiri. Kami saling melambai.

Tahun 1998, ketika saya ikut mendirikan Forbis (Forum Bisnis Solo) dan menjadi penggagas plus pelaksana (bersama adik saya, Mayor Haristanto) acara Dialog Ekonomi Di Tengah Krisis di Solo, sempat mengobrol dengan Parno di pinggir jalan Wonogiri. Acara itu didukung oleh Jokowi, pengusaha mebel yang kini jadi walikota Solo. Pembicaranya, yang saya sendiri sebagai pengantar uang muka honor untuknya ke Kampus FEUI Salemba, adalah Dr. Sri Mulyani Indrawati.

Pertemuan saya dengan Parno yang terakhir, terjadi tanggal 16 Desember 2008. Saya melayat meninggalnya ulama terpandang Wonogiri, Bapak H. Abdullah Sadjad. Rumah beliau beradu dinding dengan rumah Sugeng Sudewo. Saya terlambat datang, sehingga saat saya tiba, peti jenazah sudah masuk ambulans untuk menuju pemakaman Kampung Kajen. Saya kehilangan obyek untuk pemotretan. Dengan tergesa, saya segera jalan menuju makam.

Dalam perjalanan bersama pelayat lain itu saya terantuk pada sosok yang kulitnya putih. Dengan tubuh kurus. Setelah saya perhatikan, ternyata ia teman SD saya, Suparno. Kami lalu bersalaman. “Genjik di mana ?” tanya saya. Ia pun menjawab : “Di Bojonegoro.”

Cuaca mulai gerimis. Lalu saya mohon diri, untuk segera ke makam. Karena tergesa-gesa itulah saya kelupaan untuk berpotret bersama. Juga tak sempat meminta maaf atas kejadian di masa sekolah dasar dulu itu. Kini, Suparno telah damai menghadap Sang Maha Pencipta.

Pagi ini (17/2/2009), aku dipersilakan oleh istrinya, Intan Yulia, untuk bertemu Suparno lagi. Ia nampak rapi dalam keranda. Sejenak aku berdoa untuknya. Juga untuk keluarga yang ia tinggalkan, yaitu Intan Yulia, istri, dan anak-anak : Agus Indriatno, Dewi Damayanti-Wagiman (Jakarta), Anita Kusuma Dewi, Fransisca Deby Chintia Dewi, dan cucunya, Karen Tsana Putri Damayanti.

Photobucket

Menuju peristirahatan. Langit Wonogiri cerah saat peti jenazah memasuki area Pemakaman Umum Kajen. Nampak keluarga menyambut dengan tabah dan ikhlas. Putra tertua, Agus, membawa payung. Dan duduk di tengah adalah istri almarhum, Intan Yulia, dan tiga putrinya. Di kejauhan, nampak Gunung Gandul dipayungi langit biru, menjadi saksi.


Photobucket

Tabur bunga untuk yang tercinta. Ibu Intan Yulia (kiri), disertai kerabat Slamet Santoso, anak lelakinya Agus Indriatno (tengah) dan putrinya Dewi, Anita dan Sisca, sedang menaburkan bunga ke peti jenasah sebelum diturunkan ke liang lahat. Ayah tercinta telah pergi, tetapi cinta dan kenangan terhadapnya akan selalu hidup dalam sanubari mereka yang ditinggalkan.

Photobucket

Dari tanah kembali ke tanah. Prodiakon Ignatius Gono Purnomo dalam memimpin upacara pemakaman telah disertai warga keluarga besar Lingkungan Sanjaya Paroki St Yohanes Rasul Wonogiri, sedang memanjatkan doa untuk almarhum yang kini bersemayam dalam tenteram, dalam keabadian.

Selamat jalan, Mas Parno.
Semoga kau kini tenteram, damai dan bahagia abadi disisiNya


(Bambang Haryanto).


kkk

Selasa, 2008 November 04

Bapak Oemartopo Tutup Usia, 72 Tahun

Cerutu dan gergaji. Bulan Maret 2008 Bapak Oemartopo masih mendalang di Pusat Kebudayaan Belanda, Jakarta. “Selama dua jam penuh, berbahasa Inggris,” ujar beliau bersemangat. Saat itu, 19 Agustus 2008, beliau saya temui untuk meminta pendapat beliau sebagai sesepuh Kampung Kajen dan pejuang 1945 terkait renungan HUT Kemerdekaan RI ke 63. Walau mengaku dalam keadaan sakit, ada gangguan syaraf di punggung, beliau lancar dalam bercerita.

Tergoda untuk mengetahui bagaimana humor dalam wayang bisa diterima oleh penonton wayang yang orang Barat, saya telah tanyakan hal itu kepada Pak Oemar. Beliau punya cerita ilustrasi yang menarik. Antara lain tentang sikap “kurang ajar” para punokawan dalam memperlakukan para raksasa. Misalnya ketika Petruk mengelus-elus gigi-gigi para raksasa. “Like a saw,” cetus Petruk. Seperti gergaji. Sementara Gareng ikut menimpali ketika ia justru memegang-megang hidung si Petruk. “Like a cigar.” Seperti cerutu, demikian kata Gareng.

Audiens pun tergelak. Tetapi yang paling lucu mungkin kisah tentang Sengkuni, maha patih yang eksentrik dan licik itu. Konon setelah pasukan kerajaannya menang perang di kerajaan Wirata, dan setelah menempuh jarak ribuan kilometer untuk pulang, ia mengadu ke Resi Durna. Sengkuni mengeluh, “I left my cigarette in Wirata.” Rokok klobot, rokok tradisional milik Sengkuni yang dibungkus dengan kulit buah jagung itu ketinggalan di Wirata. Dan ia sangat menyesalinya.

Dalam obrolan itu saya sempat merekam secara video pendapat beliau mengenai bagaimana warga Kajen, juga anak bangsa, dalam mengisi kemerdekaan. Seperti isi pidato beliau di acara renungan HUT RI ke 62 (2007) yang dilangsungkan di halaman rumah saya, sebagai pejuang beliau sangat geram akan perilaku para koruptor. “Mereka itu yang berpotensi menenggelamkan negeri ini ke jurang kehancuran,” tegas Pak Oemartopo.

Terkait dengan sosok beliau sebagai budayawan, dalang dan etnomusikolog yang mendunia, beliau menceritakan hal yang menarik. Bila bisa sembuh total, beliau akan mengajak saya untuk menemaninya mengikuti acara pertemuan budaya yang diadakan tahunan di Bali, yaitu World Music Workshop in Bali.Beliau juga menyebut nama Dr. Robert E. Brown, direktur kegiatan budaya ini. “Akomodasi akan ditanggung oleh panitia,” tutur beliau. Terima kasih, Pak Oemar.


Selamat jalan, Pak Oemar. Penutur lelucon wayang di atas, kini telah menghadap Sang Khalik Bapak Oemartopo meninggal dunia tanggal 4 November 2008 Jam 01.30 di Rumah Sakit Umum Dr. Muwardi, Solo. Tutup usia mencapai 72 tahun. Jenazah dimakamkan di Pemakaman Umum Kajen Giripurwo, Wonogiri, Rabu, 5 November 2008.

Wonogiri merasa kehilangan salah satu warga terhormat dan duta budayanya yang terbaik. Kabar duka ini pun segera menyebar, dan sejak pagi rumah beliau telah dikunjungi ratusan takziah. Jumlah itu semakin bertambah di siang harinya. Belasan karangan bunga, dari Bupati Wonogiri, fraksi Partai Golkar di DPRD, kalangan pengusaha sampai sekolah, menunjukkan luasnya lingkup pergaulan beliau. Liputan fotonya sebagai berikut :

Photobucket

Wakil keluarga. Tokoh budaya dan Ketua Permadani Wonogiri, Drs. AK Djaelani, didampingi menantu Moch Subhan Kenedi dan putra, Puguh Aldoko Putro, menyambut para takziah. Selaku wakil dari keluarga beliau mengucapkan banyak terima kasih atas empati masyarakat Wonogiri, juga memohonkan maaf bagi semua kesalahan almarhum ketika berinteraksi dengan masyarakat di kala hidupnya.

Ikut memberikan sambutan dan penghiburan bagi yang berduka adalah Camat Wonogiri, Bapak Drs. Sriyono, MM. Sedang pembacaan doa dilaksanakan oleh Bapak Mohammmad Soepandi, BA.

Photobucket

Bendera duka. Bapak H. Oemartopo lahir di Sragen, 3 Desember 1936. Beliau menjabat sebagai guru SPG di Wonogiri sejak tahun 1961 sampai 1990. Mengajar kesenian di Amerika Serikat selama 12 tahun dan di Hongaria, 2 tahun. Dalam daftar riwayat hidup yang dibacakan oleh pambiwara, RMT Ki Lilik Guna Hanata Diprana, disebutkan bahwa jabatan pengabdian beliau yang terakhir adalah Ketua RT 01/RW XI Lingkungan Kajen, Giripurwo, Wonogiri, sampai akhir hayat.

Kajen memang kehilangan tokoh panutan. Rasa kehilangan itu ditunjukkan dengan barisan takziah yang memanjang, mengikuti gerak ambulans yang mengantar almarhum ke peristirahatan terakhir di Pemakaman Umum Kampung Kajen.

Photobucket

Gerbang alam fana. Peti jenasah memasuki gerbang Pemakaman Umum Kampung Kajen. Jasad Bapak H. Oemartopo bersiap beristirahat dalam kedamaian, di sisi Tuhan. Beliau memang telah pergi jauh, sudah tak lagi ada di antara kita di dunia yang fana ini. Yang pasti, kebaikannya, akan abadi dalam kenangan mereka yang beliau tinggalkan. Sebuah pesan singkat ini menarik untuk kita simak dan camkan : Do u know abt d things which live after death? Heart-10 mins, brain-10 mins, eyes-31 mins, legs-4 hrs, skin-5 days, bones-30 days, LOVE – FOREVER.

Photobucket

Kesedihan dan keikhlasan. Kehilangan orang tercinta selalu mengguratkan kesedihan mendalam. Barangkali juga hikmah. Penyair AS, Ezra Pound (1885–1972) melukiskan duka itu, O woe, woe/People are born and die/We also shall be dead pretty soon/Therefore let us act as if we were dead already. Mungkin isi puisi itu sama maknanya dengan ujaran, “carilah kehidupan seperti kau akan hidup selamanya, tetapi carilah pahala seperti esok kau akan mati.”

Keluarga besar Bapak H. Oemartopo nampak memaknai ajaran luhur itu. Kesedihan memang tidak bisa disembunyikan. Termasuk di wajah putrinya yang anggun, Ut Pholowati, yang mudah mengingatkan sosok Ratna Doemilah, peragawati nasional era akhir 70-an. Yang pasti tidak ada isak tangis darinya. Juga dari keluarga lainnya. Karena mereka tahu bahwa suami, ayah dan eyang tercinta mereka kini telah memperoleh tempat yang layak disisiNya.

Photobucket

Doa selalu beliau nantikan. Rabu, 5 November 2008, sekitar jam 15.00 WIB, upacara pemakaman Bapak H. Oemartopo telah berlangsung secara paripurna. Ikut menjadi saksi adalah adik beliau, Bapak Oemarsono, mantan Bupati Wonogiri dan Gubernur Lampung. Dipimpin Bapak Slamet Sadono, para takziah melantunkan doa kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, agar almarhum kini senantiasa damai dan tentram di haribaanNya.

Memang hanya doa kini yang beliau harapkan dari keluarga, untuk mampu menautkan bahwa cinta beliau kepada sesamanya akan senantiasa hidup dalam hari-hari kehidupan kita selanjutnya.

Sementara untuk keluarga besar H. Oemartopo, meliputi Ibu Sunarni, Ibu Sri Suyamti, Ut Pholowati/Moch Subhan Kenedi, Puguh Aldoko Putro/Rita Subekti, Aldoko Dwi Rodo Punggung, serta para cucu yaitu Kentari, Ibel, Rehan, Rara, semoga senantiasa diberi keteguhan iman dalam mengantar Bapak Oemartopo menghadap Sang Khalik.

Selamat jalan Pak Oemar.


(Bambang Haryanto)

kkk

Rabu, 2008 Agustus 27

Tito Bhawarto Bawa Bundas Liga Juara

14 Agustus 2008. Warga Kajen memadati lapangan Belik. Karena mereka akan melihat jagoan-jagoan futsal Kajen berlaga meraih juara. Pada partai utama sore itu akan ditandingkan tim futsal Bundas Liga yang diperkuat Tito Sepriadi, Eko dan Taufik melawan tim M2X yang diawaki Wahyu, Sandi dan Gilang.

Pertandingan sore itu benar-benar panas, seru dan lucu. Karena tim Bundas Liga rata-rata anak usia SMA sedangkan tim M2X diperkuat pemain kawakan dan berpengalaman. Namun Dewi Fortuna masih berpihak pada tim Bundas Liga.

Tito Sepriadi, sang kapten, berhasil menjebol gawang M2X. Tak lama berselang Tito berhasil lagi menjebol gawang tim lawan. Eko juga menyumbang gol untuk timnya. Saat akan turun minum lagi-lagi Tito mencetak gol. Hingga turun minum skor masih 4-0 untuk Bundas Liga.

Bundas Liga kritis. Saat babak kedua dimulai, permainan M2X semakin keras. Karena mereka menanggung beban mental yang disebabkan mereka kalah dari tim sekelas Bundas Liga, padahal mereka merupakan jebolan dari Perdikan U-19. Pola permainan keras mereka berhasil menjebol gawang Bundas Liga.

Yang menakjubkan tim M2X berhasil menyamakan kedudukan antara lain lewat pinalti yang dialgojoi Sandi. Pinalti terjadi karena Topik mentakling Wahyu di kotak terlarang.

Saat kedudukan sama Tito dan kawan-kawan lebih bersemangat dan ikut bermain keras. Eko akhirnya berhasil mencetak gol setelah mengecoh dua pemain. Tiga menit kemudian Topik berhasil mencetak gol lewat tendangan gawangnya. Puluhan Bundas Mania yang dipimpin Bhowi Dewananda terus menyanyi, meneriakkan yel-yel dan menabuh drum.

Saat babak kedua mendekati usai, Tito mencetak gol lagi. M2X benar-benar dipermalukan dan mereka sangat kecewa. Sesaat kemudain wasit meniup peluit tanda pertandingan usai. Akhirnya Bundas Liga berhasil sebagai pemenang dengan skor 7-4. Sang kapten tim, Tito, didaulat sebagai Best of The Best, karena menjadi pemain yang paling subur dalam menyarangkan gol.

Foto : Tito (kiri) bersama Eko dan hadiahnya sebagai juara.

(Liputan dari Gelora Belik Kajen oleh Tito Bhawarto pada putaran final Lomba Futsal Berdaster Memperingati HUT Kemerdekaan RI Ke-63 di Lingkungan Kampung Kajen, Giripurwo, Wonogiri, 14 Agustus 2008).


kkk

Senin, 2008 Agustus 18

Kajen, Agustus 2008 dan Pesta Rakyat Semesta

Oleh : Bambang Haryanto
Email : kajenku (at) gmail.com



Pesta para juara. Agustus adalah untuk rakyat dan pulau-pulau kecintaan mereka. August for the people and their favourite islands. Demikian sebuah judul puisi tahun 1936 dari penyair Inggris, W.H. Auden (1907-1973).

Judul puisi yang menarik. Bagi kita bangsa Indonesia, judul itu mungkin lumayan relevan. Karena tiap bulan kedelapan ini kita sebagai bangsa Indonesia senantiasa merayakan hari kemerdekaan kita sebagai bangsa. Terima kasih kepada Soekarno-Hatta, juga para pejuang lainnya, sebagai pendiri republik ini.

Tetapi tentang pulau-pulau favorit dari judul puisinya W.H. Auden itu, kira-kira apa relevansinya ? Tidak usah jauh-jauh. Indonesia senyatanya adalah negara kepulauan, archipelago, terbesar di dunia. Semua pulau itu menjadi favorit, menjadi kecintaan, bahkan diyakini sebagai tumpah darah warganya. Maka di bulan Agustus ini kita sebagai warga Indonesia layak untuk meneguhkan perasaan cinta itu. Cinta tanah air. Cinta bangsa. Cinta Indonesia !

Kampung Kajen, tidak ketinggalan dalam ikut menyemarakkan pesta Agustusan. Inilah bulan favorit bagi anak-anak, juga warga yang merasa memiliki semangat berkompetisi secara jujur, menjunjung sikap ksatria, untuk berprestasi dan tampil sebagai juara.

Nuansa lomba memenuhi udara. Sejak awal Agustus, selain jalan utama kampung dihiasi gapura, udara sore pun juga berbeda. Mengambil medan utama di lapangan voli dekat Belik, telah dilangsungkan beragam acara perlombaan. Dari arena ini bergema laporan pandangan mata setiap mata acara, yang disiarkan dengan pengeras suara. Acara penting lainnya, jalan santai warga mengambil tempat di kompleks SD Muhammadiyah. Daftar para juara lomba tersebut adalah :

Hasil Lomba Untuk Anak-Anak. Lomba Lari Karung : Juara 1, Fafa (Rt 01/RW XI), Juara 2, Nuraini (01/XI) dan Alfan. Lomba Memasukkan Belut Dalam Botol : Ibnu (01/XI), Yoga (02/X) dan Rian (03/XI). Lomba Ambil Koin Dalam Melon : Ibnu (01/XI), Rian (03/XI) dan Nanok. Lomba Memasukkan Bola Ke Dalam Ring : Dewa (01/XI), Ibnu (01/XI), dan Deni (01/X). Lomba Lari Karung Dilanjutkan Memasukkan Belut Dalam Botol : Ibnu (01/XI), Fafa (01/XI) dan Aldi (03/X).


Hasil Lomba Untuk Umum. Lomba Pukul Bantal Di Atas Kolam : Juara 1, Yudi ; Juara 2, Narto ; Juara 3, Dea. Lomba Lari Karung Putra : Dea, Dwi dan Rio. Lomba Lari Karung Putri : Yanti, Dian dan Tutik Giyono. Lomba Bakiak Putra : Gogek cs, Restu cs, dan Gilang cs. Lomba Bakiak Putri : Tutik Giyono cs dan Desi cs.

Lomba Sepakbola 3 on 3 Putra : Klanthang Mimis, Sukun dan RNB. Lomba Sepakbola 3 on 3 Putri : Ronaldowati, Bob Marley dan Family Fun. Lomba Lari Kampung : Nanang, Rio, dan Tito. Lomba Trethek : Banon cs (02/X), Suwarso Suwito cs (01/XI) dan Jayanti cs (01/XI).

Lomba Nyanyi Diiringi Electone : Fatiah (02/X), Atik (01/XI), Sari (01/XI). Sri Mulyaningsih (01/XI) didaulat sebagai penyanyi favorit.


Lomba Nyanyi Anak Negeri. Hari Senin Malam, 18 Agustus 2008, perhatian warga Kajen terserap ke panggung hiburan. Berlokasi di jalan masuk utama kampung ini. Dengan panggung bernuansakan rural, ada foto Bung Tomo secara heroik meneriakkan semangat perjuangan, dengan latar warna tosca dan tulisan pink, maka acara kesenian pun digelar. Yaitu lomba nyanyi dan lomba trethek.

“Ada enam puluh ribu warga memadati acara ini,” kata Heriyanto Tarsan, sang pembawa acara. Anda jangan percaya. Angkanya masih jauh dari jumlah fantastis itu. Tetapi Anda jangan ragukan semaraknya. Juga seriusnya.

Dewan juri untuk kedua jenis lomba tersebut terdiri dari Bapak Hengki (“yang kakak dari Edo Kondologit,” begitu cetus bombastis sang pembawa acara), Ibu dra. Yenny Nasution (“yang bagai bulan, dengan suara menawan”) dan Bapak Kelik Shokeh. Acara bernuansa kompetitif antarwarga itu dapat berlangsung secara santai dan meriah, berkat ramuan guyonan dan glenyengan yang akrab bagi seluruh hadirin, yang disajikan Heriyanto Tarsan.

Ia adalah sang pembawa acara segala musim. Musim kedondong, musim mangga, sampai musim duwet. Dan cocok untuk segala kegiatan dari kampung Kajen. Terutama liputan olahraga. Spesialisasinya : olahraga panjat pinang, panjat tebing dan panjat pohon mangga milik tetangga (ketika kecil dulu). Liputan foto dan catatan ringan warna-warni lainnya tersaji di bawah ini :

Photobucket

Hiburan untuk semua. Acara kesenian tiap Agustus, termasuk lomba tarik suara juga dimanfaatkan warga kampung Kajen untuk bersantai dan bersosialisasi. Sajian musik dangdut oleh sebagian peserta lomba senantiasa memancing sebagian pengunjung untuk berjoget bersama. Bahkan para maniak joget ini menyatakan siap menjiwai semangat 17 Agustus dan siap beraksi joget pula selama tujuh belas hari dan tujuh belas malam pula !

(Catatan : Ketularan bahasa hiperboliknya sang emcee, yakni Mas Tarsan yang sering di muka publik menyebut hadiah total bagi pemenang lomba kelas kampung Kajen dengan nilai total milyaran rupiah :-))

Photobucket

Sang Primadona. Fatiah, sang juara pertama lomba nyanyi diiringi electone ini memiliki vokal prima, ekspresi menawan dan keterpaduan suara yang diatas rata-rata dibanding peserta lainnya. Misalnya peserta dari kelompok senior yang sering disebut sebagai kelompok “Sepasang Mata Bola” dan “Jembatan Merah,” yaitu Ibu Margono, Ibu Nur Martoyo, Ibu Giarni dan Ibu Bawarsi.

Peserta lainnya, Edytune, Ika, Edi, Niken, Bela, Alinia, Galuh, Hayu Winarsi, Pahala, Sari, Rutin, Sri Mulyaningsih, Uci, Yuriko Novean Mahendra, Atik dan Bambang Tetuko. Malam itu, Fatiah yang putri Ibu Alam Nasution ini benar-benar menjadi sang primadona !

Photobucket

Apuse Campur Reog. Istilah nrethek saya dengar dari ibu saya untuk menggambarkan sesuatu keluarga yang kesulitan menyediakan kebutuhan pokok dan meminta bantuan dari tetangga. Tetapi sekarang istilah nrethek mengacu kepada sajian musik para peronda malam.

Kelompok Banon dan kawan-kawan yang menyabet juara pertama ini secara kreatif menggabungkan musik kentongan khas peronda, lagu pop, lagu rakyat Apuse, dan penonton terpesona karena juga disuguhi aksi teatrikal pemain topeng ganong yang diambil dari khasanah kesenian reog. Bener-bener komplit, Mas Banon !

Kelompok ini mengungguli peserta lain, yaitu kelompok yang dikomandani Suwarso Suwito, didukung Suharto dan maestro ronda Kajen Bapak Giyadi, juga kelompok Jayanti cs yang unik sebagi penyaji trethek karena semua anggotanya terdiri dari kaum perempuan.

Photobucket

Mendongkrak motivasi. Pesta ulang tahun kemerdekaan adalah pesta kita semua. Tidak terkecuali generasi muda, yang bahkan masih duduk di sekolah dasar untuk ikut berperanserta. Nampak host Heryanto Tarsan berbincang di panggung dengan peserta lomba termuda, Rutin, yang mewarisi darah Pak Madyo dan masih duduk di kelas 3 sekolah dasar. Keberaniannya untuk tampil patut memperoleh pujian dan dorongan.

Photobucket

Atik Yang Membara. Menggoda. Seronok. Kaya warna. Itulah tampilan juara kedua lomba nyanyi, Atik. Lengkingan suara yang lantang, terjaga dan goyang pinggul yang tak kalah hot dari penyanyi profesional, membuat malam Kajen serasa membara.

Photobucket

Suara kelembutan. Di tengah pesta bernuansakan kemerdekaan semua orang bebas berekspresi. Sebagaimana layaknya remaja, Sari, malam itu menyuguhkan lagu cinta yang menawan. Ia pantas memenangkan hadiah sebagai juara ketiga.

Photobucket

Komplit dan favorit. Dalam sehari-harinya warga Kajen tak kaget melihat mBak Sri Mulyaningsih terlibat dalam beragam kegiatan. Misalnya sebagai perangkat acara pencoblosan dalam Pilgub Jawa Tengah 2008, disamping sehari-harinya sebagai penjual beragam kudapan yang lezat di Pasar Wonogiri. Ia pun cakap dalam menyanyi dan rutin ikut lomba setiap acara Agustusan tiba. Tahun ini ia memenangkan juara sebagai penyanyi terfavorit !

Photobucket

Sound engineer andalan. Madonna, Sherina, Mulan Kwok sampai Kris Dayanti, boleh saja memiliki suara indah. Tetapi kalau peranti keras untuk penyajian suara mereka tidak bagus, jebloklah penyajian mereka. Acara lomba dan pagelaran musik berlangsung mulus antara lain berkat tangan dingin Bapak Suparno (foto) sebagai peƱata suara.

Sebelumnya telah dikenal sebagai tukang kayu, tukang batu, tukang listrik, pembuat pengeras suara yang mampu menyaingi teknologi Marshall atau Lansing, aktif juga sebagai tukang pijat (khusus untuk mBak Tien, bukan hendak menyaingi Mas Gito), dan multi keterampilan lainnya, walau nampaknya tidak ada bakatnya sebagai tukang santet. Pria asal Cepogo, Boyolali ini, juga dikenal sebagai tukang tolak bala andal sehingga lahar Gunung Merapi tidak sampai mengalir sampai Kajen, Wonogiri, sampai saat ini !

Sejak awal Agustus dirinya memang telah bekerja keras dalam mengatur performa peranti keras itu berhari-hari sebelumnya. Tentu saja bersama soundmaster tester yang tak kalah jeli dan andal, Bapak Eko “Testing, Testing” Winarso. Tentu saja, ikut terlibat ahli lainnya : Bapak Giyadi.

Itu tentang suara. Segi visual pertunjukan tak kalah vital. Graphic designer andalan Kajen dari Just Du It Corporation, Jumplong, telah bertanggung jawab secara berhasil dalam menata panggung pertunjukan. Demikian pula pengelolaan segala pernik administrasi kepanitiaan yang digalang oleh Bapak Haryono, Bapak Supri, Mas Sigit dan kawan-kawan, membuat segala program telah berjalan secara semestinya.

Dengan arahan Bapak Suroto sebagai Kaling Kajen, Bapak H. Oemartopo sebagai sesepuh, juga ketua panitia, Drs. Jauhari Makmuri, M.Ag, dan peran serta yang aktif dari seluruh warga, membuat kerjasama beragam keterampilan dan sumber daya warga Kajen itu membuahkan prestasi yang patut untuk dikenang, diteladani, dan menantang untuk bisa semakin ditingkatkan.

Dirgahayu, Kajenku.
Dirgahayu, Indonesiaku !


Kajen, 18-20 Agutus 2008


kkk

H. Oemartopo : Pesan Kemerdekaan RI 2008

Merdeka !

Sesepuh kampung Kajen, sekaligus Ketua RT 01/RW 11 Kajen, Bapak H. Oemartopo nampak bersemangat menyambut acara peringatan HUT Kemerdekaan RI ke 63 di kampung Kajen.

Ditemui oleh Bambang Haryanto, blogger Kajen, beliau memberikan banyak pesan. Walau mengaku dalam keadaan kurang sehat, beliau tetap bersemangat layaknya pejuang di masa perjuangan.

Usianya yang melampui angka 70 tahun, pengalamannya sebagai budayawan, dalang dan etnomusikolog yang kenyang dengan perjalanan mengelilingi dunia, mampu memberikan kepada kita wawasan yang berharga. Terutama bagi warga Kajen dan warga Indonesia dalam mengarungi masa depan.

Dalam kesempatan bersejarah itu, beliau menitip pesan kepada warga Kajen untuk tabah dan tawakal dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Serta tetap berjuang mengisi kemerdekaan. Bukan dengan perang lagi, tetapi dengan bekerja dan berkarya.

Seperti isi pesannya tahun lalu, beliau tetap konsisten bahwa bangsa dan negara ini harus diselamatkan dari ancaman para koruptor. Mereka-merekalah itu yang berpotensi menenggelamkan negara dan bangsa Indonesia. Diharapkan bangsanya semakin cerdas dan berani memerangi penyakit bangsa yang kronis ini. Saya mendukung diberlakukannya hukuman mati bagi koruptor, tegasnya. Generasi muda harus menjadi bagian untuk memerangi ancaman besar satu ini.

Merdeka !

Minggu, 2008 Agustus 17

Kajen Merayakan Kemerdekaan RI Tahun 2008

Photobucket

Pertama kali. Pintu masuk kampung Kajen menjadi semarak menjelang Agustus 2008. Untuk pertama kali kampungku ini memajang gapura menyambut hari ulang tahun kemerdekaan RI ke 63. Upaya yang membanggakan dari Mas Parno, Mas Eko, Sigit, Jumplong, Tarzan serta kawan-kawan aktivis kampung yang militan.

Acara tahunan itu juga diramaikan dengan pelbagai lomba yang melibatkan seluruh warga kampung. Venues utama dilaksanakan di lapangan volley dekat belik, sisi timur kampung yang berbatasan dengan aliran Bengawan Solo ini. Laporan pandangan mata yang dipancarkan dengan pengeras suara memberi warna meriah setiap sore di kampung dinamis ini.

Selasa, 2008 April 08

Tamu dari Perancis : Jeff Francois Coctaz

Si Paimin dari Perancis. Blog ini ditulis dari kampung Kajen, Giripurwo, Wonogiri. Kalau Anda ingin tahu tentang Kajen, mohon maaf, silakan Anda pergi dahulu ke Paris, kota cahaya, yang ibukota Perancis.

Kunjungilah kantor kedutaan besar Republik Indonesia. Di sana silakan temui salah seorang pegawai lokalnya. Ia bernama : Jeff Francois Coctaz. Kepada mantan anggota angkatan laut Perancis dan lulusan antropologi ini, sapalah ia dengan bahasa Jawa. Atau bila ingin cepat lebih akrab, panggil saja dengan sebutan Mas Paimin.

Lalu tanyakanlah hal seputar Kajen kepadanya. Tanyakan tentang wayang, karena ia seorang dalang. Tanyakan apa ia masih ingat nama Bapak Oemartopo. Nama mBak Nur. Bapak Suroto yang Kaling Kajen. Ibu Sumarni Mulyarto. Mas Mulyadi. Juga masing-masing nama anak keluarga almarhum Kastanto Hendrowiharso.

Karena pada tahun 70-an Jeff Coctaz, pernah agak lama tinggal di rumah keluarga Kastanto sebagai sahabat Bari Hendriatmo, salah satu anak keluarga ini. Sejak itu Jeff ibarat sebagai warga Kajen yang kini sedang mengembara di Perancis.


Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Warga Kajen. Nampak Jeff bersama anak-anak sanggar melukis anak-anak Brigade Kelompok Kecil (BKK) Wonogiri. Di ujung kanan, bertopi, adalah pendiri BKK, Mayor Haristanto.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

Saksi sejarah. Jeff bersama Bari sedang menyalami warga Trah Martowirono yang lagi berbahagia, yaitu Mas Untung Suripno dan Ibu Eri pada hari pengantin mereka di Prambanan, Yogyakarta. Kejadian itu sudah berlangsung 25 tahun lalu, karena di tahun 2007 yang lalu Mas Untung-mBak Eri baru saja merayakan pesta perak perkawinannya.


Berkunjung ke Kajen. Walau pun tidak intensif, saya (Bambang Haryanto) masih bisa kontak dengan Jeff melalui email. Hal itu berlangsung sejak tahun 2003, saat ia mengunjungi Kajen. Sore itu banyak sekali warga Kajen, juga anak-anak kecil, merubung untuk menemui saudara bule mereka yang lama tidak ketemu.

Hari Jumat sore, 28 Maret 2008, ia muncul lagi di Kajen. Ia ditemani Mas Widodo Wilis, dalang dari Ngadirojo. Jeff cerita sudah mengontak adik-adik saya, bahkan bisa ketemu dengan Broto Happy W. (wartawan BOLA) di Bogor. Juga kontak dengan Bari di Jember dan Mayor Haristanto di Solo. Sebelumnya ia sudah sampai di Sulawesi. “Aku balik ke Perancis, 4 April 2008,” katanya.

Sore itu, Jeff yang nampak necis (“koyo diplomat,” kataku dan ia tertawa), sempat menemui mBak Marni Mulyarto untuk menanyakan Ganefo (putranya) yang kini bekerja di Kendari. Juga bersilaturahmi dengan Bapak/Ibu Sunarso, depan rumahku. Tak lupa glenyengan menyalami anak-anak kecil Kajen. Ketika ia berjalan diapit temen cewek Perancis dan istrinya Mas Widodo ia bilang, “koyo Janoko.”

Saya rada iri dan kagum sama dia. Jeff ini dalam bahasa Jawa disebut grapyak, murah hati dan suka ngobrol, bertegur sapa. Banyak temannya. Wong Perancis tetapi guyonannya, jiwanya, sudah sebagai wong Jowo. Sore itu ia juga menemui budayawan dan tokoh pedalangan, Bapak Oemartopo.

Sayang, saat itu kamera digitalku lagi kehabisan bateri. Saya berharap Jeff bisa mampir lagi di Wonogiri, katanya mau nonton wayang, sehingga aku bisa memotretnya. Tak kesampaian. Ia kirim SMS :

“Mas Bambang, maaf baru baca sms anda. Saking banyak sms saya sdh tidak tahu lagi. Sya sdh di bandara Yogya utk menuju Surabaya. Waktunya terlalu cepat berlalu. Terima kasih dan tolong sampaikan salam kepada orang yg saya tidak sempat ketemu. Jeff.” (Senin, 31 Maret 2008 : 12.17.23).

Au Revoir, Jeff !


kkk