Sabtu, 24 Desember 2011

In Memoriam Bapak Sutarmin Marto Semito: Saat Dipimpin Beliau Olahraga Kajen Begitu Marak

Oleh : Broto Happy Wondomisnowo
Warga Kajen, wartawan Tabloid BOLA, Jakarta



Seluruh warga Kajen yang ada di mana pun rasanya akan berduka mendalam atas wafatnya Bapak Sutarmin Marto Semito pada Kamis, 22 Desember 2011 malam dalam usia 86 tahun.

Pak Tarmin tidak saja menjadi orangtua dan kakek bagi anak dan cucunya, tetapi juga pemimpin, teladan, dan sekaligus sesepuh warga Kajen.

Sebagai salah satu warga, saya pun ikut berbela sungkawa atas kepergiannya menghadap Sang Khalik. Semoga segala amal baik dan ibadahnya bisa diterima di sisiNya.

Pak Tarmin bagi saya, , bukan hanya seorang lurah (sebutannya dulu) dan kepala lingkungan. Mendiang juga motivator ulung yang mampu membangkitkan semangat seluruh warganya. Ketika di usia remaja pada akhir tahun 1970-an, saya bisa merasakan bagaimana Pak Tarmin ikut berjasa besar dalam menggelorakan semangat berolahraga saya. Sentuhan midas itu pula yang kemudian ternyata ikut membangun karier hingga bisa menjadi wartawan olahraga di Tabloid BOLA, Jakarta.


Top di Wonogiri. Saat saya remaja, kegiatan olahraga di kampung Kajen termasuk begitu marak. Aktivitas para remajanya bisa dibilang melebihi apa yang dilakukan rekan sebaya di kampung sekitar Kajen, bahkan seluruh Kecamatan Kota Wonogiri.

Kegiatan olahraga di Kajen kala itu termasuk menonjol. Pak Tarmin-lah yang ikut menyuburkan semangat berolahraga di kalangan remaja Kajen. Mulai dari kegiatan sepakbola, bola voli, basket, bulutangkis, hingga tenis meja, bisa ditemui di berbagai tempat di Kajen dan sekitarnya.

Hebatnya, hampir seluruh remaja Kajen saat itu begitu menggilai kegiatan olahraga tersebut. Setiap sore atau akhir pekan, adalah hari olahraga bagi para remaja Kajen.

Photobucket
Olahraga keluarga. Arena bermain pingpong keluarga Kastanto di kampung Kajen nampak sedang terpakai oleh Slamet "Oo" Yuwono (membelakangi lensa) melawan Bhakti "Nuning" Hendroyulianingsih.Yang berkaos nomor 9 adalah Broto Happy.

Photobucket
Menunggu giliran. Pertandingan antara Slamet Yuwono melawan Nuning sedang ditunggui oleh adik-adiknya, Betty (kiri) dan Bonny. Arena pingpong ini juga menjadi tempat berkumpul dan berolahraga bagi warga Kajen lainnya.

Atlet pingpong amatir keluarga Kastanto, Kajen, Giripurwo, Wonogiri, era 1970-an, Atlet pingpong keluarga. Dari kiri : Basnendar, Betty, Bonny, Slamet Yuwono (Oo), Broto Happy (di belakang) dan Nuning.
Istirahat dan berpose. Dari kiri : Basnendar, Betty, Bonny, Slamet Yuwono (depan), Broto Happy (belakang) dan Nuning.

Salah satu bukti, atas inisiatif ayah saya Kastanto Hendrowiharso, di halaman rumah saya disediakan meja pingpong. Saban akhir pekan, banyak yang main. Bahkan hingga larut malam. Mas Bajuri (foto bawah, dipotret oleh Bambang Haryanto, 2008) kala itu bisa disebut sebagai maestro pingpong Kajen. Ia bermain menawan dengan pola permainan yang super ultra defensive namun sangat menghibur.

Saya masih ingat dengan teriakan khasnya: "Loncis! Loncis!" setiap bola Mas Bajuri mati, keluar atau menyangkut di net. Selain di rumah saya, di tempat Pak Wasimin di RT 3 ada meja ping pong pula.

Main sepakbola, karena tidak punya arena, biasa dilakukan di Lapangan Kabupaten. Hampir saban sore kami bermain si kulit bundar ini. Baru menjelang Mahgrib, kita bubaran. Kita main bola dengan nyeker alias tanpa sepatu bola. Maklum, sepatu bola saat itu termasuk barang mewah. Karena keterbatasan itu pula, kami terpaksa harus patungan untuk membeli bola.

Nama-nama seperti Agus Doyok, Djentot Winarno, Si Sur, Kristanto, Heru Goang, Bagong, Widodo Jendul, Juki, Sigit, Heri, Iguk, Agung, Dayat, Djayadi, juga saya, adalah sebagian yang main bola.

Bahkan warga yang usianya sudah layak disebut dewasa seperti Mas Misdi, Mas Banon, Mas Eko Winarso, Mas Jito dan juga Lik Bawarto ikut main bal-balan.

Pasukan Biru. Belakangan, setelah banyak pemain bisa membeli sepatu bola, kegiatan ini meningkat. Saat dipimpin Pak Tarmin pula, Kajen akhirnya memiliki tim sepakbola di bawah nama klub Perdikan. Kala itu seragam kebanggaannya adalah kaus warna biru dipadu warna putih di bagian lengan, dengan celana dan kaus kaki merah. Hampir mirip dengan tim nasional Prancis.

PS Perdikan tak hanya berlatih, tetapi juga menggelar lawatan ke daerah lain. Klub ini yang dimotori Lik Bawarto (sekarang jadi camat) pernah main lawan tim Wonoboyo di Lapangan Bantarangin, samping SMP Negeri 2. Juga menghadapi klub Wonokarto di Stadion Wonokarto.

Klub kebanggaan warga Kajen ini pun pernah melawat ke daerah lain, seperti Tirtomoyo, Ngadirojo, Eromoko, hingga ke Pule, Selogiri.

Di lapangan Pule ini, saya punya kisah yang tidak terlupakan. Ketika melawan klub setempat, baru setengah babak, gawang Mas Eko Winarso sudah kebobolan dua gol.

Perdikan di pertengahan babak kedua, akhirnya bisa menipiskan ketertinggalan menjadi 1-2 lewat scrimage di gawang lawan. Siapa sang pencetak gol tidak jelas. Pemain-pemain Kajen juga tidak ada yang berani mengklaim dirinya sebagai pencetak gol. Pokoknya 1-2 keduduka akhirnya.

Pertandingan pun tinggal hitungan menit akan bubar. Saat itu, saya bertanya ke wasit, tinggal berapa menit lagi pertandingan akan berakhir. Sang pengadil pun menjawab: "Tinggal 5 menit," begitu ujarnya.

Karena tidak ingin kalah, dan waktu makin menipis, para pemain PS Perdikan langsung meningkatkan intensitas serangan. Gelombang serangan yang sporadis itu akhirnya berbuah pelanggaran di sisi kiri daerah pertahanan lawan. Saya sebagai libero, ikut naik membantu serangan.

Tendangan bebas di luar kotak pinalti diambil Agus Doyok. Dia mengarahkan ke Mas Banon. Karena memiliki postur jangkung layaknya Peter Crouch, pemain timnas Inggris dan juga klub Stoke City di Liga Inggris, dengan membelakangi gawang, Mas Banon bisa sempurna menyundul bola.

Dewi Fortuna rupanya berpihak kepada saya. Sundulan itu tepat mengarah ke saya. Dan tanpa mengontrol, si kulit bundar itu langsung saya embat sekeras-kerasnya dan mengoyak gawang lawan tanpa bisa ditahan kiper. Gol!

Skor pun berubah menjadi 2-2 dan beberapa saat kemudian sang wasit meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan.

Saktinya Dewaruci. Setelah PS Perdikan sinarnya meredup, di Kajen lahir klub sepakbola Dewaruci. Klub ini diprakarsai Mas Djoko Sudono, pemilik usaha sablon "DS" yang berdiri di RT 2, persis di sebelah selatan SKKP atau SMP 3 dulu.

Dewaruci FC juga memakai warna biru benhur sebagai warna kebanggaannya. Seragamnya serba biru, mulai dari kaus dan celana, serta kaus kaki putih. Di bagian dada terdapat gambar sablon putih tokoh wayang Dewaruci. Kalau basah kena keringat atau kehujanan, gambar Dewarucinya malah makin jelas.

Para pemainya, bisa disebut di antaranya, Agus Doyok dan adiknya, Heru Goang, Bobby (putra Pak Soenarko), Agung, Heru (anak Gerdu), Ucok, saya, dll. Sebagai kiper adalah Prapto, dia anak Pracimantoro yang ngenger di Kajen untuk meneruskan sekolah. Sementara si Ucok ini kemudian malah dipanggil memperkuat tim perserikatan kebanggaan Wonogiri, Persiwi.

Tawuran fanatisme. Kegiatan lain selain sepakbola yang juga berkembang adalah voli. Atas prakarsa Pak Tarmin pula, kita bisa membeli bola voli yang bagus, beserta netnya. Duit untuk membeli peralatan itu didapat lewat kerja bakti memotong pohon beringin yang sudah roboh diterjang angin kencang.

Ceritanya, pohon beringin di tepi anak sungai Bengawan Solo di daerah perbatasan RT 1 dan 2 di Kajen Wetan, tepatnya di seberang rumah Pak Maun, roboh. Karena takut "sang penunggu marah" tidak ada yang berani mengusyiknya. Akhirnya lewat keputusan Pak Tarmin dengan dibantu Mbah Marjan, para warga berani menebang cabang pohon beringin besar yang roboh.

Setiap Minggu warga Kajen, terutama para pemuda dan remaja, kerja bakti menebang cabang yang patah itu. Ranting, cabang, dan pokok kayu dipotong kecil-kecil. Setelah dikumpulkan, kemudian dijual. Hasilnya untuk membeli peralatan voli. Pelatih voli saat itu adalah Mas Jito yang piawai, maklum dia lulusan Sekolah Menengah Olahraga Atas (SMOA) Solo.

Hanya saking semangatnya, ketika digelar pertandingan voli antar RT untuk menyambut Agustusan, sempat terjadi kejadian yang memalukan. Lapangan di bawah rumpun bambu di kebun milik Mbah Po yang berada di lingkungan RT 4 (saat itu), menjadi saksi sejarah bagaimana fanatisme para remaja dan pemuda dalam membela korps-nya berbuntut perkelahian yang melibatkan beberapa anggota warga RT 4 dengan RT 6.

Gara-gara kejadian ini, kami para remaja mengenangnya sebagai Tragedy Heysel, mengingatkan akan matinya 39 suporter Juventus saat dihabisi pendukung Liverpol dalam ajang final Liga Champion 1985 di Stadion Heysel, Belgia!

Menyebrang kali. Di era Pak Tarmin pula, sudah dirintis acara persahabatan lewat titian muhibah khusus olahraga antara warga Kajen dan Kampung Pengkol yang dipisahkan Sungai Bengawan Solo. Ketika itu dipertandingkan cabang voli dan ping pong putra-putri. Kita nglurug ke desa seberang untuk bertanding di dua cabang tersebut.

Sementara menyangkut makan-minum dan konsumsi kita membekali sendiri dengan menenteng teko berisi air. Begitu sebaliknya, di lain waktu gantian Kajen bertindak sebagai tuan rumah.

Tujuan utama kegiatan ini bukan semata-mata mencari kemenangan di olahraga. Namun ada yang jauh lebih penting, yaitu menjalin hubungan harmonis antar warga dua desa yang dipisahkan sungai tersebut. Maka, berkat hubungan diplomatik yang harmonis ini, tidak ada lagi namanya tawuran antar kampung, seperti yang marak belakangan ini di Tanah Air.


Kerusuhan di Kodim. Kegiatan lain yang menonjol adalah bermain bola basket. Lewat perkumpulan BBKC (Bola Basket Kajen Club), remaja-remaja Kajen dihimpun untuk menekuni cabang andalan Negeri Paman Sam itu. Latihannya terpaksa nglurug, kalau tidak ke lapangan SMA Negeri 1, bisa juga ke lapangan Kodim.

Begitu bel berakhirnya jam kerja perusahaan jamu Air Mancur terdengar (sekitar jam 3 sore), itu menjadi pertanda remaja-remaja Kajen berkumpul untuk segera berangkat berlatih. Berkat latihan rutin, penampilan pemain-pemain Kajen makin oke.

Pernah suatu ketika digelar pertandingan basket antar klub se-Wonogiri. BBKC ternyata tampil memikat. Berbekal permainan penuh semangat dan kompak, BBKC bisa tampil ke final. Sukses ke final ini pun disambut hangat oleh orangtua pemain. Keberhasilan ini pun menjadi buah bibir warga masyarakat Kajen.

Hari yang dinanti tiba. BBKC diperkuat Mas Banon, Agus Doyok, Si Sur, Heri dan Si Kris (putra Pak Wito), Budi (almarhum, putra Pak Mijo), Sigit (putra Pak Narso), Djentot Sunarno, almarhum Lik Mul, Luluk (putra Pak Sayono), saya, dan ditambah Ari Prakosa (almarhum, putra Pak Panidi, Kedungringin) melawan klub Rajawali yang sebagian diperkuat pemain-pemain keturunan. Pertandingan digelar di Lapangan Kodim 0728.

Sayang partai final ini tidak berjalan mulus. Karena kepemimpinan wasit yang berpihak kepada lawan, terjadi kericuhan. Pemain BBKC tidak puas karena merasa dicurangi. Dampaknya, pendukung Kajen yang memang hadir dalam jumlah banyak, ikut merangsek ke dalam lapangan. Suasana jadi kacau dan bertambah panas.

Wasit dikerubuti pemain dan suporter Kajen yang memprotes keputusan yang tidak adil. Terjadi dorong dorongan. Tak ingin terjadi anarki, Pak Suripto, ketua pantia yang juga anggota ABRI (kalau tidak salah ketika itu berpangkat letda) yang bertugas di Kodim, meminta bantuan tentara yang tengah piket untuk ikut mengamankan suasana.

Beberapa suporter Kajen yang dianggap sebagai provokator, sempat diamankan di ruangan piket Kodim. Pertandingan pun tidak diteruskan. Meski tidak jadi juara, BBKC tetap bangga. Mereka tidak kalah oleh lawan tapi gagal karena kepemimpinan wasit yang buruk!

Para orangtua pemain dan suporter juga tetap merasa bangga. Buktinya, usai pertandingan para pemain dan suporter diarak pulang dengan naik bus Giri Indah yang di parkir di depan Kodim. Meski bukan pemilik, kita diarak karena para sopir bus itu kebanyakan warga Kajen!

Nilai luhur Pak Tarmin. Pendeknnya, berkat kegiatan olahraga pula, yang namanya tawuran antar remaja tidak ada. Begitu pula dengan kegiatan negatif seperti minum-minuman keras, apalagi narkoba, juga termasuk barang langka. Lewat olahraga pula, remaja Kajen dibina mentalnya untuk hidup sehat, menjunjung semangat, kompak, dan mau gotong royong.

Nilai-nilai luhur itu juga yang ditularkan oleh Pak Tarmin kepada warganya, terutama kaum remajanya. Meski kini Pak Tarmin sudah tiada, budi baik, jasa, dedikasi, pengabdian, bimbingan, dan teladannya, layak diteruskan.

Pak Tarmin, beristirahatlah dengan tentram. Kami hanya bisa berdoa, semoga amal dan ibadahnya mendapat balasan dari Allah.

*Broto Happy Wondomisnowo, warga Kajen RT 4 (kini RT 1/RW 11) yang sejak 1990 boro ke Jakarta untuk menjadi wartawan, penulis buku, dan komentator bulutangkis di sejumlah televisi.


Bogor-Jakarta, 23/12/2011

Kamis, 22 Desember 2011

Kajen Kehilangan Pepunden : Bapak Sutarmin Marto Semito

Oleh : Bambang Haryanto
Email : kajenku (at) gmail.com



Kehilangan jejak sejarah. “Innalillahi wa inna ilahihi rojiun, semoga dengan berbekal segala pahala dan budi baiknya, almarhum bisa diterima di sisiNya.”

Itulah sms dari warga Kajen yang kini tinggal di Bogor : Broto Happy Wondomisnowo. Ia wartawan Tabloid BOLA, penulis buku dan komentator bulutangkis di pelbagai stasiun televisi nasional.

Tiga tahun lalu, tepatnya tanggal 1 Oktober 2008, saya dan Happy sowan ke rumah Bapak Sutarmin Marto Semito (foto, tengah). Beliau tadi malam, Kamis 22/12/2011 jam 22.30 telah dipanggil menghadap Illahi, di kampung Kajen, Giripurwo, Wonogiri. Beliau tutup usia mencapai 86 tahun.

Bersama pepunden Kajen : Broto Happy, Bapak Sutarmin Marto Semito dan Bambang Haryanto, Silaturahmi tanggal 1 Oktober 2008 di Kajen, Giripurwo, Wonogiri

Bapak Sutarmin Marto Semito, seorang pepunden, alias tokoh terhormat di kampung kami. Waktu saya kecil, kami menyebutnya sebagai Pak Lurah.

Jabatan tersebut kini dilanjutkan oleh putranya, Mas Suroto, walau sekarang ini dengan aturan kepemerintahan yang mutakhir, dirinya memperoleh sebutan baru. Sebagai Kaling, kepala lingkungan.

Mas Suroto ketika saya tanya masa jabatan ayahnya, menjawab pendek : “Beliau sudah pensiun sebagai kaling 30 tahun yang lalu.” Jadi sekitar tahun 1980. Sebelumnya, yang saya ingat di tahun 60-an (saat saya SD), Lurah kajen itu dijabat oleh Bapak Noyorejo.

Sedang menantunya, Mas Nunuk, ketika saya tanyakan apakah Pak Marto Tarmin sudah menjabat sebagai kaling saat banjir besar melanda Kajen tahun 1966, dia tidak tahu. Tetapi Mas Suyat, keluarga dari kaling lama Pak Noyo, menyatakan Pak Marto Tarmin sudah menjabat sebagai kaling Kajen.

Kepergian beliau, jelas merupakan kehilangan besar bagi kampung kami. Kampung ini sepertinya terputus hubungan dengan sejarahnya di masa lalu, karena penghubung itu, karena kehendak Illahi, telah menghadap kepadaNya satu demi satu. Waktu demi waktu.

“Sampaikan salam ikut berduka cita,” tutup sms dari Happy. Tentu. Keluarga besar Kastanto Hendrowiharso, juga ikut berduka cita atas wafatnya beliau.

Semoga Ibu Marinem (istri), beserta putra-putri dan menantu beliau Tumin-Sumini, Rahmanto-Suharni, Rahmanto-Suharni, Suparti-Wariman, Suparmi-Sugiri, Mulyono-Leginah, Suroto-Suprapti dan Surati-Sugiyarto dan seluruh keluarga besar Bapak Bapak Sutarmin Marto Semito, dikaruniai kesabaran dan ketegaran, di saat-saat sulit seperti ini.

”Sugeng tindak, Pak Marto Tarmin.



Kajen, Wonogiri, 23/12/2011

Jumat, 19 Agustus 2011

Wonogiri Kehilangan Bapak Drs. AK Djaelani

Radit, anak tampan itu, kini tak lagi bisa pergi ke Jumatan bersama eyangnya. Tetapi ia nampak tabah ketika mengantar eyangnya, Drs Abdul Kadir Djaelani, dimakamkan di siang hari terik bulan Agustus, di Pemakaman Umum Kajen, Wonogiri.

Sebenarnya tidak hanya Radit (foto) yang merasa kehilangan eyang tercintanya. Melihat jajaran karangan bunga yang menyertai upacara pemakaman yang dipimpin oleh Bapak Slamet Sadono, sebenarnya Wonogiri telah kehilangan pendidik, tokoh budaya dan tokoh masyarakat yang dikenal luas dan menjadi rujukan pertanyaan hal-ihwal kebudayaan, khususnya kebudayaa Jawa.

Ada karangan bunga dari Danar Rahmanto, Bupati Wonogiri. Paguyuban Permadani Pusat (Semarang) dan Wonogiri. Politisi Partai Golkar sampai BKK Wonogiri. Ketika jenazah diberangkatkan dari rumah duka Kajen Rt 1/RW X, nampak pelbagai unsur masyarakat Wonogiri hadir di sana.

“Sifat kebapakan merupakan sifat yang menonjol dari beliau.” Demikian tukas spontan dari Suliyanto, S.Pd, guru SMP Negeri 1 Wonogiri dan kawan seperjuangan beliau dalam organisasi Permadani. “Organisasi ini kan terdiri dari pelbagai macam orang dan karakter. Nah, Pak Djaelani yang ngrakani, merengkuh semua unsur itu untuk menjadi padu.”

Kelebihan itu kiranya yang kemudian membuat organisasi Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia (Permadani). Wonogiri berkembang. Tidak hanya berjaya di telatah Wonogiri, tetapi mampu membuka cabang-cabang sampai kawasan Karanganyar dan Pacitan.

Permadani adalah ormas dalam bidang kebudayaan, nonpolitik dan nonkomersial, yang didirikan di Semarang 4 Juli 1984. Nama itu dipilih oleh tokoh kebudayaan dan dalang terkenal, Ki Nartosabdo. Di Jawa Tengah telah menyebar hingga 21 kabupaten/kota madya dan di Jawa Timur menjangkau 12 kabupaten/kota madya.

Di Kabupaten Wonogiri sendiri, pada tahun 2007 saja, telah merambah 15 kecamatan dan aktivitas utamanya selama ini mencakup penyelenggaraan kegiatan yang dalam bahasa Jawa disebut pawiyatan panatacara tuwin pamedhar sabda, kursus protokoler atau master of ceremony dan pidato berbahasa Jawa.

Mencatat kiat horse sense. Di Permadani itulah saya mengenal Pak Djaelani. Atas prakarsa salah satu tokoh Permadani, Mas Otong Tri Lono, pada tanggal 27 Mei 2007, saya diminta untuk berbagi wawasan mengenai kiprah kaum epistoholik untuk warga Permadani Kabupaten Wonogiri.

Pembawa makalah lainnya adalah Suliyanto, S.Pd., guru SMP Negeri 1 Wonogiri dan pembawa acara kajian budaya dan bahasa Jawa di Radio Gajah Mungkur, Wonogiri. Ia akan membawakan makalah sesudah saya, berjudul “Mengkaji Pokok-Pokok Pelajaran Kursus Bahasa Jawa-Pembawa Acara-Pidato Khas Permadani Wonogiri.”

Keesokannya, Mas Suliyanto, kelahiran Pracimantoro yang lulusan cum laude IKIP Semarang itu menyajikan makalahnya dengan PowerPoint. Bahasannya sangat komprehensif, sejak dari kesusasteraan jawa, siklus hidup manusia berdasarkan kosmologi Jawa, sampai seputar dunia perkerisan.

Hari Sabtu malam, saya bersama pak Otong itu menuju ke aula SDN 1 Wonogiri, tempat sarasehan esok harinya. Sekitar 400 m dari rumah saya. Jalan kaki. Melihat-lihat lokasi dan mempersiapkan segala hal. Kami bertemu dengan mas dalang RMT Liliek Guna Hanoto Diprono. Beliau ini adalah mantan kepala lingkungan (kaling) kampung saya, Kajen. Saat bertemu di tahun 80-an, badannya langsing. Kini nampak subur dan makmur.

Juga bertemu dengan ketua Permadani Wonogiri, Drs. AK Djaelani. Ketika ia salami sambil menyebut nama ayah saya, Kastanto Hendrowiharso, beliau langsung nyambung. Kalau tidak salah, setahu saya belasan tahun lalu, untuk urusan menjadi panitia hajatan di Kajen atau mungkin main rummy di kalangan bapak-bapak, beliau adalah sohib almarhum ayah saya Kastanto Hendrowiharso yang meninggal tahun 1982.

Sebelumnya, kami kadang ketemu di jalan usai jalan kaki pagi, tetapi tak ada “kontak” di antara kami. Oleh karena itu timbul kejadian lucu, demikian cerita Mas Otong kemudian, bahwa mas Liliek dan pak Djaelani itu tidak tahu sama sekali tentang kiprah saya sebagai warga Epistoholik Indonesia selama ini.

Usai membawakan makalah, Pak Djaelani kiranya tertarik terhadap isi paparan saya mengenai kiat sukses a la pakar pemasaran Al Ries dan Jack Trout dalam bukunya Horse Sense : The Key to Success Is Finding a Horse to Ride (1991). Kiat itu telah saya tuliskan saat itu untuk beliau.

Setelah pertemuan itu, sekitar 3-4 kali acara wisuda Permadani, saya selalu hadir. Juga untuk bersilaturahmi dengan Pak Djaelani. Yang sering ketemu adalah ketika usai jalan kaki pagi, saya pergoki beliau sedang menuju kios koran Vemby untuk membeli koran. Sedang pada saat sholat Jumat, nampak ia disertai cucunya, Radit tadi.

Beliau yang entengan, murah hati, beberapa kali saya potret ketika beliau didapuk menjadi wakil fihak keluarga yang sedang dirundung kesripahan. Misalnya, ketika meninggalnya teman SD saya Paulus Suparno sampai wafatnya tokoh dalang dan budaya Jawa, Bapak Oemartopo (foto) di tahun 2008.

Penyesalan saya sekarang adalah, adalah tidak kesampaiannya gagasan saya untuk sowan beliau guna menunjukkan foto-foto jepretan saya tersebut. Juga memohon kesan-kesan ketika beliau aktif menjadi tokoh kampung Kajen bersama almarhum ayah saya.

Bapak Drs. Abdul Kadir Djaelani, pensiunan Agraria/BPN, telah dipanggil Yang Maha Kuasa pada tanggal 18 Agustus 2011, Kamis Pon, Jam 18.15 di RSUD Soediran Mangunsumarso, Wonogiri. Beliau mencapai usia 70 tahun. Beliau dimakamkan di Pemakaman Umum Kajen, Jumat Wage, 19 Agustus 2011.

Semoga keluarga yang ditinggalkan, yaitu Ibu Harsiti, putra/putrid yang terdiri Waskito Budi Nugroho/Menik Suratmi, S.Pd (Jakarta), AMS Adi Prabowo/Etik Widyati, S.Pd (Wonogiri), Rahmawati Tri Hastuti/Ajid BR (Wonogiri), Ida Kusumawati/Misdi (Jakarta), Sari Indah Listyani/Prasetyo Agus (Wonogiri), beserta cucu, dianugerahi kesabaran, ketegaran dan iman dalam suasana yang sulit saat ini.

Selain Bapak Sarono yang mewakili Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI), di antara pelayat juga saya temui beberapa mantan guru saya di SMP Negeri 1 Wonogiri. Misalnya, Bapak Mufid Martoadmojo, Bapak H. Soepandi, BA yang membacakan doa, dan guru gambar, Bapak Mulyonowasto. Semua mendoakan agar Bapak Djaelani yang wafat di tengah bulan Ramadhan ini senantiasa memperoleh kesejahteraan di sisi Allah.

Sugeng tindak, Pak Djaelani.



Bambang Haryanto
Wonogiri, 19/8/2011

Senin, 20 Desember 2010

Hari Kajen Kampung Kreatif Dideklarasikan !

Oleh : Bambang Haryanto
Email : kajenku (at) gmail.com


"Kreativitas adalah penciptaan.
Mengalami, tumbuh, ambil resiko.
Mematahkan peraturan, membuat kesalahan, dan bersukaria."

Itulah definisi kreativitas menurut aktivis komunitas, penulis kaligrafi dan pengarang asal Amerika, Mary Lou Cook.

Mary Lou Cook memang tak dikenal oleh warga Kajen.

Tetapi semangatnya mengilhami warga Kajen yang tumpah ruah pada hari Selasa pagi, pada tanggal yang cantik 21-12-2010, untuk memperingati Hari Ibu dengan aktivitas unik.

Liputan fotonya sebagai berikut :

kajen,kampung kreatif,wonogiri

Tanda cinta untuk ibu. Anak-anak Kajen, lelaki dan perempuan, juga kaum bapak, menyambut antusias acara unik ini. Walau dengan cara sederhana, mereka ingin menyatakan penghargaan bagi para ibu dan istri mereka. Acara dipandu penggagas kegiatan, Mayor Haristanto yang warga asli Kajen tetapi kini tinggal di Solo sebagai penggerak Republik Aeng-Aeng, berlangsung meriah dan bersemangat.

kajen,giripurwo,wonogiri,21 desember 2010,kampung kreatif

Antusiasme warga. Selain mengadakan acara mencuci baju ibu secara massal ["ada yang mengusulkan lain kali ramai-ramai cuci karpet"], warga Kajen sepakat untuk menancapkan janji bahwa mulai tanggal 21-12-2010 itu akan berusaha menghidupkan gagasan agar kampungnya menjadi kampung yang kreatif. Tekad membara itu mereka tunjukkan di depan kamera !

suroto,basnendar,kajen,kampung kreatif,wonogiri,21 desember 2010

Kaling dan kreativitas. "Kegiatan ini saya sambut dengan hangat, selain sebagai ajang hiburan yang edukatif bagi warga Kajen, juga diniatkan untuk meraih tujuan yang lebih besar.Yaitu untuk memacu anak-anak kita, agar mereka sebagai insan-insan kreatif di masa depan." Demikian tandas Bapak Suroto (bertopi) ketika memberi semangat kepada warganya. Ia didampingi Basnendar HPS, warga Kajen yang kini menjadi pengajar di ISI Solo. Bas itu pula yang menciptakan desain "Kajen Kampung Kreatif" yang menjadi penanda visual kegiatan ini.

erin,kajen,kampung kreatif,wonogiri,21 desember 2010

Dipundak Erin dan kawan-kawan."Ayo kita cium bareng-bareng baju ibu kita. Bayangkan betapa besar cinta ibu kepada kita semua. Mulai hari in tunjukkan selalu cinta kita kepada ibu-ibu kita," demikian ajak Mayor Haristanto, sesaat sebelum peserta mulai mencuci. Ajakan itu juga diamini oleh Erin (kaos merah) dan kawan-kawan yang antusias mencuci baju ibu-ibu mereka.

suparno,mbak tien,warung berkah,kajen,kampung kreatif,wonogiri,21 desember 2010

Untuk mBak Tien. Bapak Suparno, tokoh enerjik Kampung Kajen, tak ketinggalan. "Saya ikut kegiatan mencuci baju istri saya ini, sebagai tanda cinta kepada teman hidup yang mendampingi saya selama puluhan tahun di kampung ini," kata beliau yang berasal dari Cepogo, Boyolali. Selain Pak Suyatin dan putrinya dari Putukrejo, suami dari mBak Tien yang mengelola Warung Barokah ini cukup lama menjadi bintang di depan kamera wartawan televisi TATV dari Solo.

Selasa penuh gelora. Acara yang berakhir sekitar jam 10-an itu dilengkapi dengan pembagian hadiah secara undian.Dukungan dana dan hadiah antara lain dari diler motor Yamaha, Young Motor Wonogiri.Kerja sama ini bisa terjadi berkat hubungan dekat warga Kajen, yang dipelopori Mas Tarsan Heriyanto,dengan diler sepeda motor yang memiliki gerai dan bengkel di kampung Kajen itu pula.

Wartawan tabloid BOLA, Broto Happywondomisnowo, warga asli Kajen yang kebetulan mudik, ikut menyumbangkan kaos. Dua dari lima kaos itu antara lain disabet oleh Mas Sutiyo sebagai peserta paling sepuh, juga oleh Erin, peserta remaja paling menawan.

Happy juga menjadi pemberi hadiah belasan bingkisan berisi sabun hingga mi instan. Ibu Bhakti "Nuning" Hendroyulianingsih, menyediakan puluhan sachet Rinso untuk semua peserta. Ibu Betty dibantu Eyang Narso Putri, dibantu Tasha, Mayang,menjadi seksi sibuk. Termasuk berbelanja, sampai mengemas hadiah dan makanan kecil yang kemudian dibagikan kepada peserta.

Kajen sebagai kampung kreatif mulai menggeliat.
Tunggu saja, gebrakan lainnya yang lebih menantang di masa depan.


Wonogiri, 21-24/12/2010


kkk

Selasa, 18 Agustus 2009

Kajenku dan 64 Tahun Kemerdekaan Negeriku



Menggebrak lagi. Kampung Kajen kembali meriah. Warga walau dalam suasana keterbatasan, suasana yang kurang bungah dibanding tahun lalu, tetapi momen 17 Agustusan tetap saja memicu gairah mereka.

Termasuk anak-anak.Lomba unik, memanjat pohon pisang (kalau pinang terlalu tinggi dan mahal), mereka ikuti dengan bersemangat. Anak-anak RT 02/RW 11, dengan komando Sigit Joko Purnomo (kaos biru, memegang peluit), Hartanto, Arifin dan kerabat kerjanya yang lain, membuat pelataran rumah Ibu Riman sore itu sarat dengan teriakan. Para bapak dan ibu yang menyemangati putra-putri mereka memanjat.

Mencoba meraih sang saka Merah Putih.
Gaduh dan bingar. Serta bergembira dalam bekerja sama. Bukankah semangat ini pula yang diperlukan oleh bangsa ini ke depan ?

BH

Selasa, 17 Februari 2009

Istirahat Dalam Damai : Paulus Suparno

Teman yang baik. “Saya masih ingat dia, orangnya baik, rajin dan nurut. Tiap pagi kesekolah pasti bareng saya. Pulangnya juga bareng,” itulah bunyi pesan SMS (17/2/2009) dari Jakarta. Pengirimnya, Sugeng Sudewo, yang pada tahun 1961-1967 bersekolah di Sekolah Dasar Negeri 3 Wonogiri. Teman berangkat sekolah yang ia sebut di atas adalah Suparno.

Keduanya memang tinggal berdekatan. Sugeng Sudewo, putra Bapak/Ibu Hadisubroto (ibu Hadisubroto wafat 15 Januari 2008), tinggal di komplek Perumahan Rakyat Kajen. Hanya sekitar 150 meter, ke arah timur, terletaklah rumah Suparno, yang putra Bapak/Ibu Karsodikromo. Di kampung dan oleh teman akrab ia disebut sebagai Parno Benjo. Adiknya bernama Supardi, punya sebutan Genjik, yang juga bersekolah di SDN 3 Wonogiri.


Sugeng Sudewo dalam sms juga mengatakan, “saya ikut bela sungkawa atas meninggalnya kawan kita.” Kawan kita yang dimaksud adalah Paulus Suparno. Sugeng Sudewo, Suparno sendiri, Sri Wahyono (almarhum), Timbul Susanto (almarhum) Slamet Hartanto dan saya sendiri (Bambang Haryanto), yang sama-sama tinggal di Kajen, merupakan teman seangkatan di SDN 3 Wonogiri. Ketika duduk di kelas 6 kelas kami diampu oleh Bapak Narwoto. Nama terakhir ini kemudian menjadi politisi senior di Wonogiri dari Partai Amanat Nasional.

Photobucket

Memberi hormat. Penghormatan untuk almarhum Paulus Suparno diberikan oleh sanak-saudara, handai tolan dan kenalan yang mengalir tanpa henti. Suasana khidmat menjelang pemberangkatan jenazah.

Photobucket

Duka cita dari kolega. Paulus Suparno hingga akhir hayat bekerja pada Perum Pegadaian selama 30 tahun. Dedikasi yang panjang itu tidak dilupakan oleh perusahaan dan kerabat kerjanya. Nampak karangan bunga tanda empati kepada keluarga yang berduka dikirim oleh Pegadaian Wonogiri dan bahkan juga dari Kanwil Semarang.

Paulus Suparno meninggal dunia dalam usia 55 tahun, pada hari Senin Kliwon, 16 Februari 2009, jam 15.30 di Rumah sakit Dr Oen Kandang Sapi, Solo. Menurut adiknya Supardi, ia meninggalkan 4 putra/putri dan seorang cucu.

Jenasah dimakamkan hari Selasa Legi, 17 Februari 2009 di Pemakaman Umum Kampung Kajen. Sebelumnya akan diaksanakan upacara agama Katholik di rumah duka, RT 02 RW 10, Kajen, Giripurwo.

Photobucket

Ucapan terima kasih. Keluarga besar Bapak Paulus Suparno yang sedang berduka, tidak melupakan limpahan empati dan duka cita dari sanak-saudara, kerabat dan handai taulan. Tokoh masyarakat Kajen, bapak Drs. A.K. Djaelani dengan didampingi adik almarhum, Supardi (kanan) dan kakak ipar dari Ibu Suparno, yang mewakili keluarga sedang memberikan sambutan berupa ucapan terima kasih. Juga memohonkan maaf atas segala kesalahan almarhum semasa hidupnya.
Photobucket

Brobosan. Sebelum jenazah diberangkatkan dari rumah duka, nampak sedang dilakukan upacara brobosan oleh keluarga almarhum. Ritus ini merupakan tanda keikhlasan keluarga untuk melepas almarhum menuju rumah abadi di sisi Yang Maha Kuasa.


Keluarga Wuryantoro. Suparno masih memiliki kaitan keluarga dengan diri saya. Utamanya terkait antara keluarga ayahnya, Bapak Karsodikromo (meninggal dunia tahun 1985) yang berasal dari Wuryantoro, kota asal yang sama bagi ayah saya Kastanto Hendrowiharso (meninggal dunia 1982).

Supardi yang saya temui, Selasa pagi (17/2), menyebut ayah saya sebagai pakde. Lalu dalam obrolan muncul nama mBah Sokromo, yang tidak lain masih bersaudara dengan mBah Kasan Luwar, kakek saya. Nama mBah Sokromo ini saya ingat, rumahnya di Wuryantoro, yang pernah ditinggali ayah dan ibu saya.

Cerita masa lalu kemudian berparade di benak saya. Setiap berangkat ke sekolah, saya dan adik-adik saya memang selalu melewati depan rumah Suparno. Juga mendapat tegur sapa dari Lik Karso, yang saat itu menjadi penjaga malam di Perum Pegadaian Wonogiri. Badan usaha inilah yang kemudian menjadi lahan karier dan pengabdian Suparno. Semula di Wonogiri, sempat pindah ke Baturetno. Ketika gangguan kesehatannya muncul, ia pindah lagi ke Wonogiri.

Setelah lulus SD, kami berpisah. Saya meneruskan ke SMP Negeri 1 bersama Sugeng Sudewo dan Sri Wahyono. Suparno meneruskan bersekolah ke Sekolah Teknik Negeri (STN) 1 Wonogiri. Begitu lulus SMP (1969), saya bersekolah di Yogya, lalu Solo dan Jakarta, membuat kontak kita menjadi putus.

Balada dua kucing. Saya ingat satu kejadian dramatis ketika duduk di SDN 3 Wonogiri. Selain ingat, tentu saja, penampilan Suparno yang ketika diminta bercerita di depan kelas, seingat saya, ia selalu mendongeng tentang perilaku dua jenis kucing : kucing kurus versus kucing gemuk. Saya tidak ingat lagi kucing mana yang berperilaku baik, tetapi dongengnya itu mengajarkan nilai-nilai kebaikan.

Kejadian dramatis itu terjadi saat kita main perang-perangan. Kebetulan di dekat sekolah kami terdapat tebing di tepian Bengawan Solo. Ada jalan setapak dari tebing itu yang mengarah ke sebuah gua. Di dekat gua itu, agak ke timur, ada batu menjorok ke sungai yang kami gunakan sebagai tempat landas untuk ramai-ramai beraksi a la Gregg Louganis mencebur ke sungai. Setiap jam istirahat, kami sering menggunakan waktu untuk ramai-ramai mandi di sungai.

Aktivitas hura-hura yang beresiko. Sebab bila ketahuan oleh ayah atau ibu saya, saya akan dihukum dengan diguyur air hingga megap-megap dan kedinginan. Teknik ini, tentu yang lebih sadis mungkin kini disebut sebagai waterboarding, teknik yang digunakan oleh CIA untuk menginterogasi tersangka teroris di penjara Guantanamo.

Ketika aksi perang-perangan itu, Suparno masuk kelompok yang menjadi lawan saya. Ia dan kelompoknya masuk gua dan bertahan di sana. Saya dan kelompok saya, dari atas gua, menghujani mulut gua dengan gumpalan tanah. Rumput-rumput kering seputar gua, kami bakar. Asapnya biar masuk gua, membuat sesak, hingga musuh terpaksa keluar dari gua.

Taktik itu berhasil. Suparno yang nampak muncul dari dalam gua, segera saya serang dengan gumpalan tanah dari atas. Seingat saya, gumpalan itu saya arahkan ke dinding di atas gua. Bukan langsung ke kepala dia. Sejurus kemudian terjadi hal yang mengagetkan : pundak di baju putih dia bertaburan bercak-bercak darah. Perang-perangan itu pun selesai. Kami lalu membawa Parno ke poliklinik, yang berada di kompleks SMA Negeri 1 Wonogiri.

Syukurlah, lukanya tak mengkuatirkan. Esoknya, saya dicegat oleh Lik Karso, ayah Parno. Ia menasehati saya agar tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Saya diminta sayang kepada adiknya, yaitu Parno tersebut.

Pertemuan terakhir. Tahun 1998, ketika terjadi krismon, saya kembali menjadi warga Kajen. Setelah 18 tahun tinggal di Jakarta. Pagi-pagi hari, ketika jalan kaki pagi, sering bertemu Parno. Ia memboncengkan anaknya, memasok kue-kue untuk kantin sekolah di SD Kanisius, Wonogiri. Kami saling melambai.

Tahun 1998, ketika saya ikut mendirikan Forbis (Forum Bisnis Solo) dan menjadi penggagas plus pelaksana (bersama adik saya, Mayor Haristanto) acara Dialog Ekonomi Di Tengah Krisis di Solo, sempat mengobrol dengan Parno di pinggir jalan Wonogiri. Acara itu didukung oleh Jokowi, pengusaha mebel yang kini jadi walikota Solo. Pembicaranya, yang saya sendiri sebagai pengantar uang muka honor untuknya ke Kampus FEUI Salemba, adalah Dr. Sri Mulyani Indrawati.

Pertemuan saya dengan Parno yang terakhir, terjadi tanggal 16 Desember 2008. Saya melayat meninggalnya ulama terpandang Wonogiri, Bapak H. Abdullah Sadjad. Rumah beliau beradu dinding dengan rumah Sugeng Sudewo. Saya terlambat datang, sehingga saat saya tiba, peti jenazah sudah masuk ambulans untuk menuju pemakaman Kampung Kajen. Saya kehilangan obyek untuk pemotretan. Dengan tergesa, saya segera jalan menuju makam.

Dalam perjalanan bersama pelayat lain itu saya terantuk pada sosok yang kulitnya putih. Dengan tubuh kurus. Setelah saya perhatikan, ternyata ia teman SD saya, Suparno. Kami lalu bersalaman. “Genjik di mana ?” tanya saya. Ia pun menjawab : “Di Bojonegoro.”

Cuaca mulai gerimis. Lalu saya mohon diri, untuk segera ke makam. Karena tergesa-gesa itulah saya kelupaan untuk berpotret bersama. Juga tak sempat meminta maaf atas kejadian di masa sekolah dasar dulu itu. Kini, Suparno telah damai menghadap Sang Maha Pencipta.

Pagi ini (17/2/2009), aku dipersilakan oleh istrinya, Intan Yulia, untuk bertemu Suparno lagi. Ia nampak rapi dalam keranda. Sejenak aku berdoa untuknya. Juga untuk keluarga yang ia tinggalkan, yaitu Intan Yulia, istri, dan anak-anak : Agus Indriatno, Dewi Damayanti-Wagiman (Jakarta), Anita Kusuma Dewi, Fransisca Deby Chintia Dewi, dan cucunya, Karen Tsana Putri Damayanti.

Photobucket

Menuju peristirahatan. Langit Wonogiri cerah saat peti jenazah memasuki area Pemakaman Umum Kajen. Nampak keluarga menyambut dengan tabah dan ikhlas. Putra tertua, Agus, membawa payung. Dan duduk di tengah adalah istri almarhum, Intan Yulia, dan tiga putrinya. Di kejauhan, nampak Gunung Gandul dipayungi langit biru, menjadi saksi.


Photobucket

Tabur bunga untuk yang tercinta. Ibu Intan Yulia (kiri), disertai kerabat Slamet Santoso, anak lelakinya Agus Indriatno (tengah) dan putrinya Dewi, Anita dan Sisca, sedang menaburkan bunga ke peti jenasah sebelum diturunkan ke liang lahat. Ayah tercinta telah pergi, tetapi cinta dan kenangan terhadapnya akan selalu hidup dalam sanubari mereka yang ditinggalkan.

Photobucket

Dari tanah kembali ke tanah. Prodiakon Ignatius Gono Purnomo dalam memimpin upacara pemakaman telah disertai warga keluarga besar Lingkungan Sanjaya Paroki St Yohanes Rasul Wonogiri, sedang memanjatkan doa untuk almarhum yang kini bersemayam dalam tenteram, dalam keabadian.

Selamat jalan, Mas Parno.
Semoga kau kini tenteram, damai dan bahagia abadi disisiNya


(Bambang Haryanto).


kkk

Selasa, 04 November 2008

Bapak Oemartopo Tutup Usia, 72 Tahun

Cerutu dan gergaji. Bulan Maret 2008 Bapak Oemartopo masih mendalang di Pusat Kebudayaan Belanda, Jakarta. “Selama dua jam penuh, berbahasa Inggris,” ujar beliau bersemangat. Saat itu, 19 Agustus 2008, beliau saya temui untuk meminta pendapat beliau sebagai sesepuh Kampung Kajen dan pejuang 1945 terkait renungan HUT Kemerdekaan RI ke 63. Walau mengaku dalam keadaan sakit, ada gangguan syaraf di punggung, beliau lancar dalam bercerita.

Tergoda untuk mengetahui bagaimana humor dalam wayang bisa diterima oleh penonton wayang yang orang Barat, saya telah tanyakan hal itu kepada Pak Oemar. Beliau punya cerita ilustrasi yang menarik. Antara lain tentang sikap “kurang ajar” para punokawan dalam memperlakukan para raksasa. Misalnya ketika Petruk mengelus-elus gigi-gigi para raksasa. “Like a saw,” cetus Petruk. Seperti gergaji. Sementara Gareng ikut menimpali ketika ia justru memegang-megang hidung si Petruk. “Like a cigar.” Seperti cerutu, demikian kata Gareng.

Audiens pun tergelak. Tetapi yang paling lucu mungkin kisah tentang Sengkuni, maha patih yang eksentrik dan licik itu. Konon setelah pasukan kerajaannya menang perang di kerajaan Wirata, dan setelah menempuh jarak ribuan kilometer untuk pulang, ia mengadu ke Resi Durna. Sengkuni mengeluh, “I left my cigarette in Wirata.” Rokok klobot, rokok tradisional milik Sengkuni yang dibungkus dengan kulit buah jagung itu ketinggalan di Wirata. Dan ia sangat menyesalinya.

Dalam obrolan itu saya sempat merekam secara video pendapat beliau mengenai bagaimana warga Kajen, juga anak bangsa, dalam mengisi kemerdekaan. Seperti isi pidato beliau di acara renungan HUT RI ke 62 (2007) yang dilangsungkan di halaman rumah saya, sebagai pejuang beliau sangat geram akan perilaku para koruptor. “Mereka itu yang berpotensi menenggelamkan negeri ini ke jurang kehancuran,” tegas Pak Oemartopo.

Terkait dengan sosok beliau sebagai budayawan, dalang dan etnomusikolog yang mendunia, beliau menceritakan hal yang menarik. Bila bisa sembuh total, beliau akan mengajak saya untuk menemaninya mengikuti acara pertemuan budaya yang diadakan tahunan di Bali, yaitu World Music Workshop in Bali.Beliau juga menyebut nama Dr. Robert E. Brown, direktur kegiatan budaya ini. “Akomodasi akan ditanggung oleh panitia,” tutur beliau. Terima kasih, Pak Oemar.


Selamat jalan, Pak Oemar. Penutur lelucon wayang di atas, kini telah menghadap Sang Khalik Bapak Oemartopo meninggal dunia tanggal 4 November 2008 Jam 01.30 di Rumah Sakit Umum Dr. Muwardi, Solo. Tutup usia mencapai 72 tahun. Jenazah dimakamkan di Pemakaman Umum Kajen Giripurwo, Wonogiri, Rabu, 5 November 2008.

Wonogiri merasa kehilangan salah satu warga terhormat dan duta budayanya yang terbaik. Kabar duka ini pun segera menyebar, dan sejak pagi rumah beliau telah dikunjungi ratusan takziah. Jumlah itu semakin bertambah di siang harinya. Belasan karangan bunga, dari Bupati Wonogiri, fraksi Partai Golkar di DPRD, kalangan pengusaha sampai sekolah, menunjukkan luasnya lingkup pergaulan beliau. Liputan fotonya sebagai berikut :

Photobucket

Wakil keluarga. Tokoh budaya dan Ketua Permadani Wonogiri, Drs. AK Djaelani, didampingi menantu Moch Subhan Kenedi dan putra, Puguh Aldoko Putro, menyambut para takziah. Selaku wakil dari keluarga beliau mengucapkan banyak terima kasih atas empati masyarakat Wonogiri, juga memohonkan maaf bagi semua kesalahan almarhum ketika berinteraksi dengan masyarakat di kala hidupnya.

Ikut memberikan sambutan dan penghiburan bagi yang berduka adalah Camat Wonogiri, Bapak Drs. Sriyono, MM. Sedang pembacaan doa dilaksanakan oleh Bapak Mohammmad Soepandi, BA.

Photobucket

Bendera duka. Bapak H. Oemartopo lahir di Sragen, 3 Desember 1936. Beliau menjabat sebagai guru SPG di Wonogiri sejak tahun 1961 sampai 1990. Mengajar kesenian di Amerika Serikat selama 12 tahun dan di Hongaria, 2 tahun. Dalam daftar riwayat hidup yang dibacakan oleh pambiwara, RMT Ki Lilik Guna Hanata Diprana, disebutkan bahwa jabatan pengabdian beliau yang terakhir adalah Ketua RT 01/RW XI Lingkungan Kajen, Giripurwo, Wonogiri, sampai akhir hayat.

Kajen memang kehilangan tokoh panutan. Rasa kehilangan itu ditunjukkan dengan barisan takziah yang memanjang, mengikuti gerak ambulans yang mengantar almarhum ke peristirahatan terakhir di Pemakaman Umum Kampung Kajen.

Photobucket

Gerbang alam fana. Peti jenasah memasuki gerbang Pemakaman Umum Kampung Kajen. Jasad Bapak H. Oemartopo bersiap beristirahat dalam kedamaian, di sisi Tuhan. Beliau memang telah pergi jauh, sudah tak lagi ada di antara kita di dunia yang fana ini. Yang pasti, kebaikannya, akan abadi dalam kenangan mereka yang beliau tinggalkan. Sebuah pesan singkat ini menarik untuk kita simak dan camkan : Do u know abt d things which live after death? Heart-10 mins, brain-10 mins, eyes-31 mins, legs-4 hrs, skin-5 days, bones-30 days, LOVE – FOREVER.

Photobucket

Kesedihan dan keikhlasan. Kehilangan orang tercinta selalu mengguratkan kesedihan mendalam. Barangkali juga hikmah. Penyair AS, Ezra Pound (1885–1972) melukiskan duka itu, O woe, woe/People are born and die/We also shall be dead pretty soon/Therefore let us act as if we were dead already. Mungkin isi puisi itu sama maknanya dengan ujaran, “carilah kehidupan seperti kau akan hidup selamanya, tetapi carilah pahala seperti esok kau akan mati.”

Keluarga besar Bapak H. Oemartopo nampak memaknai ajaran luhur itu. Kesedihan memang tidak bisa disembunyikan. Termasuk di wajah putrinya yang anggun, Ut Pholowati, yang mudah mengingatkan sosok Ratna Doemilah, peragawati nasional era akhir 70-an. Yang pasti tidak ada isak tangis darinya. Juga dari keluarga lainnya. Karena mereka tahu bahwa suami, ayah dan eyang tercinta mereka kini telah memperoleh tempat yang layak disisiNya.

Photobucket

Doa selalu beliau nantikan. Rabu, 5 November 2008, sekitar jam 15.00 WIB, upacara pemakaman Bapak H. Oemartopo telah berlangsung secara paripurna. Ikut menjadi saksi adalah adik beliau, Bapak Oemarsono, mantan Bupati Wonogiri dan Gubernur Lampung. Dipimpin Bapak Slamet Sadono, para takziah melantunkan doa kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, agar almarhum kini senantiasa damai dan tentram di haribaanNya.

Memang hanya doa kini yang beliau harapkan dari keluarga, untuk mampu menautkan bahwa cinta beliau kepada sesamanya akan senantiasa hidup dalam hari-hari kehidupan kita selanjutnya.

Sementara untuk keluarga besar H. Oemartopo, meliputi Ibu Sunarni, Ibu Sri Suyamti, Ut Pholowati/Moch Subhan Kenedi, Puguh Aldoko Putro/Rita Subekti, Aldoko Dwi Rodo Punggung, serta para cucu yaitu Kentari, Ibel, Rehan, Rara, semoga senantiasa diberi keteguhan iman dalam mengantar Bapak Oemartopo menghadap Sang Khalik.

Selamat jalan Pak Oemar.


(Bambang Haryanto)

kkk